PUEBI
PUEBI
A. Pemakaian Huruf
a.
Huruf Kapital
1)
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama awal kalimat, misalnya:
o
Aku sayang kamu
o
Kita harus pergi
o
Mari membeli nasi
2)
Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan, misalnya:
o
Joy Patricia
o
Soekarno
o
Sari Sanari
3) Huruf Kapital dipakai pada awal
kalimat dalam petikan langsung, misalnya:
o
Kakak
bertanya, “Dimana kamu?”
o
Ibu
menjawab, “Ada di atas meja”
o
Bapak
bertanya, “Apa kabar?”
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan
kata ganti untuk Tuhan, misalnya:
o
Hindu
o
Tuhan
sungguh baik bagiku
o
Kasih-Nya
tak berkesudahan
5) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang
diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
o
Opu
Daeng Risadju
o
Sultan
Hamengkubuwono
6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama
jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan. Misalnya:
o
Hormat
kami, Baginda
o
Terimakasih,
Dok
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai
sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
o
Presiden
Jokowidodo
o
Jendral
Adam
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya:
o
bahasa
Dayak
o
bahasa
Sansekerta
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya. Misalnya:
o
bulan
Maret
o
hari
raya Galungan
10) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
unsur nama peristiwa sejarah. Misalnya:
o
Perang
Dunia I
o
Piagam
Jakarta
11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
nama geografi. Misalnya:
o
Palopo
o
Amerika
Utara
o
Pulau
Seribu
12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama
semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna)
dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata
tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk. Misalnya:
o
Ikatan Mahasiswa Teknologi Laboratorium
Medik Indonesi
o
Republik Rakyat China
13) Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna)
di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan
surat kabar, kecuali kata
tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi
awal. Misalnya:
o
Saya telah membaca buku Apapun Selain
Hujan
o
Cerita itu dimuat dalam
majalah Bobo
14) Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau
sapaan. Misalnya:
o
S.Pd. = Sarjana Pendidikan
o
Dr. = Doktor
b.
Huruf Miring
1)
Huruf
miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar
yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka. Misalnya:
o
Saya telah membaca
buku Bumi Manusia
o
Berita tersebut
muncul dalam surat kabar Palopo Pos
2)
Huruf
miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,
atau kelompok kata dalam kalimat. Misalnya:
o
Huruf
terakhir kata kamu adalah u
o
Buatlah
kalimat dengan kata pulang
3)
Huruf
miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau
bahasa asing. Misalnya:
o
Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik
perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
o
Nama
ilmiah buah manggis ialah Garcinia
mangostana.
c.
Huruf Tebal
1)
Huruf tebal dipakai untuk menegaskan
bagian tulisan yang sudah ditulis miring. Misalnya:
o
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak
terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
o Kata et dalam
ungkapan ora et labora berarti
'dan'.
2)
Huruf tebal dapat dipakai untuk
menegaskan bagian-bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab. Misalnya:
o
Latar Belakang
dan Masalah
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh satu bahasa standar dan
ratusan bahasa daerah—ditambah beberapa bahasa asing, terutama bahasa Inggris—
membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas,
latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak pada
paparan berikut.
o
1.1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang beragam
terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat bangga
terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan (3) sangat
bangga terhadap bahasa Indonesia.
o
1.1.2 Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa masyarakat Kalimantan
terhadap ketiga bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan
digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.
o
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap bahasa masyarakat
Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota besar terhadap bahasa Indonesia,
bahasa daerah, dan bahasa asing.
a.
Kata
Dasar
1) Kata dasar ditulis sebagai satu
kesatuan. Misalnya:
o
Pasar
Sentral sangat ramai
o
Kota
Palopo sangat bersih
b.
Kata Berimbuhan
1) Imbuhan
(awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis serangkai
dengan bentuk dasarnya. Misalnya:
o
Berlari
o
Merusak
o
Dipukul
o
Dipulangkan
o
Memulai
Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan,
atau -wi,
ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya. Misalnya:
o
Sukuisme
o
gerejawi
2) Bentuk
terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Misalnya:
o
Adikarya
o
Aerodinamika
c.
Kata Ulang
1) Bentuk
ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Misalnya:
- Kupu-kupu
- Berlari-lari
Catatan: Bentuk
ulang gabungan kata ditulis
dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:
- Lemari kaca → lemari-lemari kaca
- Baju kotor → baju-baju kotor
d.
Kata Gabungan
1) Unsur
gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis
terpisah. Misalnya:
- duta besar
- benang merah
2) Gabungan
kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda
hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Misalnya:
- Bapak-ibu guru( bapak dan
ibu guru)
- ibu-bapak kami
(ibu dan bapak kami)
3) Gabungan
kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan
atau akhiran. Misalnya:
- Mengepakkan sayap
- Menanak nasi
4) Gabungan
kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai. bMisalnya:
- dilipatgandakan
- menggarisbawahi
5) Gabungan
kata yang sudah padu ditulis serangkai. Misalnya:
- acapkali
- adakalanya
e.
PEMENGGALAN KATA
1) Pemenggalan
kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang
berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya:
- Ma-af
- Ra-ut
Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak
dipenggal. Misalnya:
- Ra-mai
- Se-ngau
Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan
huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan
sebelum huruf konsonan itu. Misalnya:
- Ma-rah
- A-rus
Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang
berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Misalnya:
- Pen-sil
- Ram-but
Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau
lebih yang masing- masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di
antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:
- Sas-tra
- Man-tra
Catatan: Gabungan huruf
konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal. Misalnya:
- Bang-kai
- Kha-la-yak
2) Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya
dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya. Misalnya:
- ber-jalan
- mem-pertanggungjawabkan
Catatan:
(1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya
mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar. Misalnya:
- me-nu-tup
- me-ma-kai
- pe-nye-but
(2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata
dasar. Misalnya:
- ge-lem-bung
- ge-mu-ruh
(3) Pemenggalan kata
yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir baris tidak dilakukan. Misalnya:
- Beberapa pendapat mengenai
masalah itu telah disampaikan
- Walaupun cuma-cuma, mereka
tidak mau mengambil makanan itu.
3) Jika sebuah kata terdiri atas dua
unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain,
pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu
dipenggal seperti pada kata dasar. Misalnya:
- biografi,
bio-grafi, bi-o-gra-fi
- biodata,
bio-data, bi-o-da-ta
4) Singkatan nama diri dan gelar yang
terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal. Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR. Pujangga terakhir Keraton Surakarta
bergelar R.Ng. Rangga Warsita.
Catatan: Penulisan berikut dihindari.
- Ia bekerja di DLL-AJR.
- Pujangga terakhir Keraton
Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.
f.
Kata Depan
Kata depan,
seperti di, ke, dan dari, ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
- Di mana
kamu?
- Kenangan itu disimpan di dalam
hati.
g. PARTIKEL
1)
Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
2)
Partikel pun ditulis terpisah dari kata
yang mendahuluinya.
Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.
Misalnya:
- Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada
waktunya.
- Dia
tetap bersemangat walaupun lelah.
- Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
- Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.
3) Partikel per yang berarti 'demi', 'tiap',
atau 'mulai' ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:
- Mereka
masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
- Harga
kain itu Rp50.000,00 per meter.
- Karyawan
itu mendapat kenaikan gaji per 1
Januari.
h. Singkatan
1)
Singkatan
nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik
pada setiap unsur singkatan itu. Misalnya:
- A.H.
Nasution = Abdul Haris Nasution
- H.
Hamid = Haji Hamid
- Suman
Hs. = Suman Hasibuan
2)
a.
Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen
resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:
- OSIS=
Organisasi Siswa Intra Sekolah
- UGM
= Universitas Gajah Madah
b. Singkatan
yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan
huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:
- PT
= perseroan terbatas
- NIP
= nomor induk pegawai
3) Singkatan yang terdiri atas tiga
huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik. Misalnya:
- hlm.
= halaman
- dll.
= dan lain-lain
4) Singkatan yang terdiri atas dua
huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda
titik. Misalnya:
- a.n.
= atas nama
- d.a.
= dengan alamat
5) Lambang kimia, singkatan satuan
ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya:
- Ca
= Kalsium
- mm
= milimeter
6) Akronim nama diri yang terdiri atas
huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:
- BIG
= Badan Informasi Geospasial
- BIN
= Badan Intelijen Negara
- LIPI
= Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
7) Akronim nama diri yang berupa
gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal kapital. Misalnya:
- Bulog
= Badan Urusan Logistik
- Polkesmas=
Poltekkes Kemenkes Makassar
- Sulteng=
Sulawesi tengah
8) Akronim bukan nama diri yang berupa
gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf
kecil. Misalnya:
- iptek
= ilmu pengetahuan dan teknologi
- pemilu
= pemilihan umum
- puskesmas
= pusat kesehatan masyarakat
ok
ReplyDeleteTerimakasih bu
Delete